Home OPINI Masa Depan yang Terlupakan: Mengapa Kita Perahunya, Bukan Pelabuhannya?

Masa Depan yang Terlupakan: Mengapa Kita Perahunya, Bukan Pelabuhannya?

88
0

Oleh: Dwi Putri Amalia
Wartawan LPM Qalamun

Selama puluhan tahun terakhir, kita terjebak dalam obsesi yang tak ada habisnya pada satu pertanyaan: “Ke mana teknologi ini akan membawa kita?” Kita membangun perahu yang semakin cepat, kokoh, dan canggih—dari internet hingga kecerdasan buatan—untuk berlayar menuju masa depan. Namun, pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru sering kita lupakan: “Kita ingin berlabuh di masa depan seperti apa?”

Inilah titik salah arah kita: terlalu sibuk menjadi “penumpang” dan “awak kapal” di perahu teknologi, alih-alih menjadi “arsitek” pelabuhan tujuan. Diskusi publik hampir selalu berputar soal cara kerja teknologi—metaverse, ChatGPT, blockchain—tetapi jarang menyentuh esensi: untuk apa, dan untuk siapa semua ini kita ciptakan?

Kita punya segudang solusi, tetapi miskin visi tentang persoalan manusiawi yang benar-benar ingin diselesaikan. AI, misalnya, bisa membuka jalan bagi pembelajaran yang dipersonalisasi hingga setiap anak menemukan passion-nya. Namun, ia juga bisa menjadi alat pengawasan massal yang mematikan kreativitas. Sayangnya, perbincangan kita lebih sering berhenti pada kecanggihan algoritmanya, bukan pada nilai pendidikan atau kemanusiaan yang seharusnya ditopang oleh teknologi itu.

Karena itu, kita membutuhkan pergeseran radikal: dari future-driven (digerakkan oleh masa depan) menjadi purpose-driven (digerakkan oleh tujuan). Sebelum terpukau oleh kemampuan teknis terbaru, kita perlu duduk bersama untuk mendefinisikan ulang: Apa artinya menjadi manusia seutuhnya di abad ke-21? Nilai-nilai apa yang tidak boleh tergantikan oleh mesin? Kesejahteraan seperti apa yang seharusnya tidak hanya diukur dari GDP, tetapi juga dari kesehatan mental dan kohesi sosial?

Tanpa kesadaran kolektif ini, kita hanya akan terombang-ambing di lautan kemungkinan teknis tanpa arah. Teknologi, dengan momentumnya sendiri, akan mendikte nilai-nilai kita—alih-alih kita yang menuntunnya untuk melayani kemanusiaan. Risiko terbesar bukan sekadar tiba di pelabuhan asing yang tak kita kenal, melainkan kehilangan orientasi tentang pantai asal dan tujuan mulia yang pernah kita impikan.

Dan ini bukan sekadar tugas para insinyur atau CEO teknologi. Ini adalah proyek kemanusiaan bersama yang menuntut keterlibatan filsuf, sosiolog, seniman, pendidik, hingga setiap warga biasa. Kita perlu membangun “ruang sandar”—baik fisik maupun dialogis—tempat kita berhenti sejenak dari derasnya arus inovasi untuk bertanya: “Apakah arah yang kita tuju benar-benar sesuai dengan yang kita inginkan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here