Home PUISI Mustahil

Mustahil

103
0

Oleh: Dwi Putri Amalia
Wartawan LPM Qalamun

Mustahil bulan menolak kelam,
atau mentari menahan fajar.
Namun di sini, dalam sunyi dan diam,
kubaringkan rindu yang terus membakar.

Mustahil samudra tak menghempas,
atau bayu berhenti berembus.
Namun di ruang sempit penuh batas,
kuredam hasrat yang nyaris menembus.

Mustahil aku lupa mengenang,
cerah yang pernah kau persembahkan.
Namun di antara sirna dan bayang,
kupaksa diri ini untuk berjalan.

Mustahil pelangi luruh warnanya,
atau musim dingin membekukan kata.
Namun di tepian panjang penantian,
kutemukan musim yang berbeda.

“Mustahil,” katamu—
namun kan kujajal,
menjadi debu terhapus jejak.
Hingga waktu pun lupa,
di mana cinta bersemayam,
dan segala yang mustahil,
perlahan menguap, hilang tanpa jejak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here