Oleh: Zulfikar Bustamin
Wartawan LPM Qalamun
Di lorong ingatan yang temaram dan basah,
jejakmu masih ada, wahai masa lalu.
Kau gema yang berbisik di tengah resah,
menjadi bayangan yang membekukan langkahku.
Dulu, kuizinkan kau merampas mentari,
menggantinya dengan mendung di mata.
Kupeluk serpihan sakit setiap hari,
meyakini diriku tak lagi berharga.
Namun lihatlah, kini aku berdiri,
di hadapan cermin kutatap sosok yang rapuh.
Bukan untuk menghakimi atau mencaci,
melainkan merengkuh jiwa yang butuh dipapah.
Satu per satu, belenggumu kulepaskan,
meski gemetar, kutolak kuasamu.
Luka itu nyata — takkan kulupakan,
tapi tak lagi kujadikan tuan atas diriku.
Ini aku, dengan segala retak di sanubari,
belajar menyiram tunas di tanah yang gersang.
Mencintai pantulan diri tanpa syarat lagi,
karena di dalam gelap, kutemukan terang.
Trauma itu bagian dari sejarahku, bukan takdirku,
dan cinta pada diri adalah sauh yang kutemukan.
Kini aku berlayar menuju esok yang baru,
dengan hati yang memilih untuk disembuhkan.







