Oleh: Febrian Fahrezi
Wartawan LPM Qalamun
Nama Rian mendadak menjadi pusat perhatian saat rapat organisasi malam itu. Seorang senior dengan suara lantang mengajukan namanya sebagai calon ketua. Ruangan yang tadinya riuh seketika hening, lalu pecah dengan tepuk tangan setuju dari banyak anggota. Namun, di tengah sorak itu, Rian justru merasa dadanya sesak. “Kenapa harus aku? Apa aku sanggup?” batinnya bergetar, sementara bibirnya hanya bisa menampilkan senyum kaku.
Sepulang dari rapat, langkah Rian terasa berat. Malam itu ia terduduk lama di kamar, memandangi layar ponsel yang penuh notifikasi. Ada yang mengucapkan selamat, ada pula yang memberi dukungan. Tapi, setiap kata semangat itu justru membuatnya semakin resah. Ia membayangkan dirinya gagal memimpin rapat, program kerja berantakan, konflik antaranggota pecah, hingga semua orang kecewa padanya. Bayangan-bayangan itu berputar tanpa henti, membuatnya sulit tidur.
Padahal, kenyataannya tidak seburuk itu. Rian punya rekam jejak yang kuat: ia pernah menjadi koordinator acara besar yang sukses, terbiasa menyusun ide, bahkan sering dimintai bantuan ketika ada masalah. Teman-temannya percaya bukan karena sekadar suka, melainkan karena sudah melihat kemampuannya. Sayangnya, di mata Rian sendiri semua itu tak berarti. Ia menilai keberhasilannya hanyalah kebetulan, sementara kegagalannya adalah cermin diri yang sebenarnya.
Keesokan harinya, Rian memilih absen dari kegiatan. Ia takut berhadapan dengan orang-orang yang menaruh harapan padanya. Namun, seorang sahabat dekat, Ezy, datang menemuinya.
“Kau kenapa, Rian? Semua orang percaya padamu. Kalau bukan kau, siapa lagi?” tanya Ezy.
Rian menunduk, berbisik lirih, “Aku takut, Zy. Aku takut bikin salah. Aku takut semuanya hancur gara-gara aku.”
Ezy menepuk bahunya pelan, lalu berkata, “Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan rasa takut mencuri kesempatanmu. Justru orang yang merasa takut biasanya lebih berhati-hati, lebih siap belajar.”
Kata-kata itu membekas. Malam berikutnya, Rian kembali merenung di depan cermin. Ia menatap dirinya lama, seakan berdialog dengan bayangan sendiri.
“Aku takut gagal.”
Lalu suara batinnya menjawab, “Kalau kau tidak mencoba, bukankah itu sudah kegagalan?”
Ia terdiam. Pertanyaan itu menohok, membuatnya sadar bahwa rasa takut selama ini hanyalah jebakan pikiran. Ia bukan tidak mampu, hanya terlalu sibuk membayangkan hal buruk yang bahkan belum tentu terjadi.
Hari pemilihan pun tiba. Dengan langkah berat, Rian maju ke depan forum. Tangannya sedikit gemetar, tapi kali ini ia tak ingin bersembunyi. Ia menyampaikan visi dengan suara yang awalnya bergetar, lalu perlahan menguat. Tatapan mata teman-temannya penuh dukungan, dan tepuk tangan yang menggema usai ia bicara membuatnya terharu. Saat itulah ia paham: keberanian bukan berarti bebas dari rasa takut, melainkan berani melangkah meski ketakutan itu masih ada.
Sejak hari itu, Rian menyadari amanah bukan diberikan pada orang yang sempurna, melainkan pada mereka yang mau belajar dan bertanggung jawab. Dan sering kali, musuh terbesar bukanlah orang lain yang meremehkan, melainkan bayangan keraguan dalam diri sendiri. Ketika ia mampu mengalahkan bayangan itu, Rian menemukan satu kebenaran sederhana: dirinya ternyata jauh lebih mampu daripada yang ia kira.







