Lampu yang Redup di Bawah Senja
Oleh : Sirajul Fuad Wartawan Magang Loris duduk di bangku taman sekolah, menatap langit yang mulai memerah oleh senja.Di sebelahnya, kosong. Seharusnya Rosaline ada di sana, seperti biasanya. Tapi hari ini, seperti beberapa minggu terakhir, Rosaline menghindar. Loris tahu, itu bukan tanpa alasan. Rosaline masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya. Mantan yang tak kunjung pergi dari pikirannya, seperti lagu yang stuck...
Banjir dan Longsor Aceh: Ketika Keserakahan Mengalahkan Alam
Oleh : Muhammad Gibran Wartawan Magang Aceh atau yang sering kita sapa kota serambi Mekah, memiliki wilayah yang dikenal dengan keindahan alamnya, kini kembali menjadi korban bencana alam pada akhir November 2025. Hujan ekstrem menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor yang menelan ratusan jiwa dan memaksa ratusan ribu warga untuk mengungsi. Namun, bencana ini bukan semata-mata fenomena alam. Pembabatan hutan...
Roti dan Gelapnya Malam
Oleh : Muhammad Gibran Wartawan Magang Di sebuah kota yang sibuk, tempat orang selalu berjalan cepat tanpa peduli satu sama lain, hidup dua orang yang sering dijadikan bahan hinaan: Lira dan Nandu. Lira adalah perempuan berusia dua puluh tiga tahun. Ia bekerja sebagai pelacur bukan karena keinginan, akan tetapi karena tidak ada pilihan lain. Ayahnya meninggal, ibunya sakit, dan ia harus...
Rindu Rumah Besar Itu
Oleh : Muhammad Gibran Wartawan Magang Dulu kita duduk bersama tanpa ada rasa canggung, tawa kita memenuhi seluruh ruangan. Setiap pertemuan kita selalu terasa hangat, seakan tak ada yang mampu untuk memisahkan kita. Namun ketika harta yang tak seberapa mulai dipersoalkan, hubungan kita perlahan menjadi retak. Kata-kata kecil jadi alasan untuk menjauh, dan keluarga yang dulu dekat kini dipisahkan oleh jarak. Aku rindu suasana ketika kita saling...
Anak Tengah Malam 2
Oleh : Muhammad Gibran Wartawan Magang Aku melihat seorang bocah kecil berjalan di pinggir kota, menyimpan luka yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Setiap langkahnya seperti pertanyaan yang menggantung di udara, tentang di mana peran negara saat seorang anak terabaikan. Aku melihat ia tidur di trotoar yang keras dan berdebu, sementara gedung pemerintahan berdiri gagah tak jauh darinya. Kupikir, adakah pemimpin yang benar-benar melihatnya? Atau...
Anak tengah malam
Oleh : Muhammad Gibran Wartawan Magang Di sudut kota yang penuh kesunyian, ada seorang anak yang mengembara, tanpa pelukan, tanpa nama, tanpa arah kembali. Ia menjadi sahabat bagi bayangan dan dinginnya malam, menyimpan tangis yang tak pernah ia izinkan untuk jatuh. Orang-orang memperlakukannya seperti bangkai yang masih bernapas, didorong, dicaci, seakan jiwanya tak memiliki harga. Namun ia hanya menunduk, menahan luka tanpa suara, karena dunia tak...
Seribu Mimpi di Kampus 1000 Mimpi
Oleh: Ahmad Juno Diansyah Wartawan Magang Rizky menatap gerbang UIN Datokarama Palu, yang dijuluki teman-temannya “Kampus 1000 Mimpi”. Di tangannya tergenggam amplop berisi surat penerimaan beasiswa. Jantungnya berdetak kencang—ini adalah langkah pertamanya menuju mimpi yang selama ini ia simpan rapat di dada. Di rumah, Rizky menatap ayahnya yang duduk di kursi kayu, wajahnya tegas. “Ayah… aku diterima di UIN,” kata Rizky dengan suara...
Cahaya yang Tertahan
Oleh: Ahmad Juno Diansyah Wartawan Magang Di matanya tersimpan bintang-bintang, Cita-cita setinggi langit yang ingin digapai. Namun suara di rumah berkata lain, “Kamu tak mampu, jangan bermimpi tinggi.” Hatinya pedih, tapi api itu tetap menyala, Meski tangan yang seharusnya mendorong, Menahan, membatasi, meredupkan sinarnya. Setiap malam ia menulis sendiri, Membayangkan dunia yang luas, Mendengar angin membisik, “Teruslah maju.” Suatu hari, meski tanpa izin, Cahaya itu akan menembus gelap, Dan bintang-bintangnya akan menjadi nyata.
Tangis Sumatera
Oleh: Ahmad Juno Diansyah Wartawan Magang Hutan-hutanmu dulu hijau, Menjaga sungai, menahan hujan. Akar-akarnya menambat bumi, Menyerap air, menenangkan bumi. Namun tangan manusia datang, Membabat habis, menebang tanpa ampun. Kayu jatuh, tanah terguncang, Sungai tak lagi punya teman. Langit menangis deras, Air mengamuk menelan desa, Tanah longsor menelan harapan, Anak-anak, ibu-bapak, hilang ditelan lumpur. Siapa yang peduli, siapa yang bersalah? Ketika alam menangis, manusia menutup mata. Bencana bukan lagi takdir, Tapi hasil dari serakah dan lupa. Sumatra,...
Negeri Tanpa Telinga
Nama: Ahmad Juno Diansyah Wartawan Magang Di sebuah negeri tanpa telinga, angin bicara pada tembok-tembok bisu, dan suara rakyat hanya menjadi gema yang tersesat di lorong-lorong sunyi. Para penguasa menanak keputusan dengan panci kedap keluhan, sementara luka-luka yang berteriak ditampung dalam mangkuk kesabaran. Anak-anak tumbuh tanpa tahu apa itu didengar: mereka hanya belajar membaca bibir hujan dan bahasa isyarat dari awan yang gelisah. Di negeri tanpa telinga, kebenaran berjalan terpincang-pincang karena setiap langkahnya tak pernah ditanggapi...













