Bayangan di Jendela

0
Oleh: Zulfikar Bustamin Wartawan LPM Qalamun Angin dingin bulan Desember menusuk tulang, namun tidak sedingin yang dirasakan Rumi setiap kali matanya tertuju pada jendela dapur. Di balik kaca buram itu, ia tidak melihat pepohonan atau langit kelabu; ia melihat kilasan masa...
Oleh: Zulfikar Bustamin Wartawan LPM Qalamun Berdamai dengan trauma masa lalu bukanlah tentang melupakan atau menghapus kenangan yang menyakitkan, melainkan sebuah perjalanan untuk memahami dan menerima diri sepenuhnya. Sejak kecil, pengalaman buruk — sekecil apa pun — bisa meninggalkan jejak emosional...
Oleh: Zulfikar Bustamin Wartawan LPM Qalamun Di lorong ingatan yang temaram dan basah, jejakmu masih ada, wahai masa lalu. Kau gema yang berbisik di tengah resah, menjadi bayangan yang membekukan langkahku. Dulu, kuizinkan kau merampas mentari, menggantinya dengan mendung di mata. Kupeluk serpihan sakit setiap hari, meyakini diriku...
Oleh: Zulfikar Bustamin Wartawan LPM Qalamun Dahulu, ada badai yang tak pernah henti, di dalam dada, perang terus menanti. Suara-suara sumbang saling mencaci, menghakimi langkah, menyalahkan nurani. Setiap cela kuperbesar dengan lensa, setiap salah kuingat sepanjang masa. Aku adalah musuh terberat, tak ada tanding, sambil mendamba ketenangan yang...

Perempuan

0
Oleh: Nurfadilah Wartawan LPM Qalamun Berdarah-darah menopang rasa sakit, tiap gerak terancam habis. Kehancuran seolah di tangan kami, padahal salah pun sering dimulai dari kami. Entah harus kusebut apa raga ini. Katanya, surga ada di telapak kaki kami, tapi mengapa dunia masih menanam patriarki, menjadikan kami terluka, mengidap sakit...
Oleh: Naysila Hafisa Wartawan LPM Qalamun Pagi itu, Bima singgah di warung kecil milik Bu Ratna. Dari balik rak roti sederhana, matanya langsung tertuju pada roti cokelat kesukaannya. Sayang, uang yang ia bawa hanya dua ribu rupiah, sementara harga roti sudah...
Oleh: Naysila Hafisa Wartawan LPM Qalamun Di rumah kecil itu, ada kursi yang kosong, suasananya tetap sepi meski terdengar tawa. Foto-foto di dinding seolah bercerita tentang kebersamaan yang kini telah hilang. Setiap pagi berjalan seperti biasa, tapi selalu ada yang kurang, tak lagi lengkap. Anak-anak berusaha kuat, meski...

Ruang Bernama Kita

0
Oleh: Rennu Alifah Rahma Wartawan LPM Qalamun Aku masih ingat jelas awalnya. Semua bermula dari sebuah proyek kecil. Aku diminta mencari seseorang yang bisa diajak bekerja sama, dan yang langsung terlintas di pikiranku adalah Kiran. Entah kenapa, dia terasa pas untuk...

Kepada Dirimu

0
Oleh: Rennu Alifah Rahma Wartawan LPM Qalamun Kehadiranmu bagai jendela yang terbuka, membiarkan cahaya masuk ke ruang yang lama gelap dan tertutup. Dulu aku hanya berjalan, menyembunyikan wajah yang bukan milikku, takut pada dunia, takut pada diriku sendiri. Namun kau datang, menunjukkan bahwa rapuh bisa dirangkul, bahwa luka pun bisa...

Aku Salah Apa?

0
Oleh: Widad Miftahul Jannah Wartawan LPM Qalamun Dari balik jendela kelas, Nasya menatap ketiga sahabatnya—Kina, Zelin, dan Ayla—yang berjalan sambil tertawa kecil, seolah dunia mereka baik-baik saja. Tak ada tempat untuk dirinya lagi. Padahal dulu, langkah mereka selalu beriringan; pulang sekolah...