Langkah Kecil Sang Pembawa Perubahan

0

Oleh: Moh Syafi Dwi Putra Wartawan LPM Qalamun Episode 1: Luka yang Membakar Semangat Suara tawa terdengar memenuhi kelas. Raka, anak dengan baju seragam yang sudah memudar warnanya, menjadi bahan olokan lagi. “Eh, lihat sepatunya Raka! Bolong, bisa buat keluarin jari!” seru Bima sambil tertawa. Teman-teman lain ikut menyoraki. Raka menunduk. Tangannya mengepal di bawah meja. Ia ingin marah, tapi suaranya tercekat. Guru masuk, dan...

Demokrasi Indonesia, Antara Harapan dan Kenyataan

0

Oleh: Moh Syafi Dwi Putra Wartawan LPM Qalamun Perjalanan demokrasi Indonesia dari Orde Baru sampai sekarang adalah cerita panjang tentang kebebasan yang diperjuangkan, sekaligus tentang tantangan yang tak kunjung selesai. Di era Orde Baru, demokrasi hanya sekadar nama. Pemilu diadakan, tapi hasilnya bisa ditebak: Golkar selalu menang telak. Partai oposisi ditekan, pers dibatasi, dan rakyat tak benar-benar punya suara. Pemerintah memang bisa...

Perubahan

0

Oleh: Moh Syafi Dwi Putra Wartawan LPM Qalamun Dulu kau berjalan di lorong sunyi, Langkahmu ringan, tapi dipandang sepi. Tatapan meremehkan menusuk hati, Seolah dirimu tak berarti. Namun waktu adalah saksi teguh, Kesabaranmu tumbuh dari luka yang rapuh. Di balik cemooh kau ukir janji, Bahwa masa depanmu tak bisa digenggam iri. Kini usia sembilan belas menjadi bukti, Suaramu lantang, gagasanmu dihargai. Kampus menyebutmu sang pemimpin muda, Cahaya pengaruhmu menyinari jiwa. Anak yang dulu...

Tragedi 21 Juli: Nasi Padang, yang Begitu Menggoda.

0

Oleh: Moh Fauzan Wartawan LPM Qalamun Hari itu tanggal 21 Juli 2025, pukul 13.00 siang. Saya baru saja bangun tidur, tidur malamku kelewat panjang sampai siang. Begitu bangun, aku duduk di kursi teras rumah seniorku sambil bengong, nyawaku masih tercecer entah di mana. Setelah sadar setengah badan, aku ingat ada yang ketinggalan ternyata hp temanku, lalu akupun bergegas ke kosnya seniorku...

Jejak yang Tak Pernah Kembali

0

Oleh: Aura Reski Ramadani Wartawan LPM Qalamun Ayah, Diantara langkah waktu yang terus berjalan, Namamu tinggal seperti bayang Di dinding kenangan yang retak perlahan. Aku tumbuh tanpa genggam tanganmu, Tanpa tawa yang harusnya mengiringi masa kecilku, Tanpa pelukan yang selama ini Hanya bisa kupinjam dari mimpi-mimpi malamku. Setiap sore aku menoleh ke pintu, Berharap kau pulang walay sekali saja, Tapi angin yang datang lebih setia Daripada kabar yang tak pernah kau bawa. Ayah, Akankah...

Cahaya yang Tak Pernah Pulang

0

Oleh: Aura Reski Ramadani Wartawan LPM Qalamun Sejak kecil, aurora selalu duduk di depan jendela setiap sore, menatap jalan kampung yang berdebu. Ia percaya, suatu hari, ayah yang tak pernah ia kenal akan muncul di ujung jalan itu menyapanya, memanggil namanya, lalu memeluknya. Keyakinan itu ia genggam begitu kuat, sampai-sampai terkadang menyakiti dirinya sendiri. Ibu jarang bercerita tentang lelaki itu, hanyaa satu...

Pulang

0

Oleh: Nazwa Sabina Wartawan LPM Qalamun Ada hari-hari di mana aku berjalan jauh, tapi kakiku tak pernah benar-benar tiba di tempat yang kusebut pulang. Aku tersenyum, aku bercanda, tapi di dalam dada ada ruang kosong yang tak bisa dijangkau siapa pun. Kadang aku iri pada angin, yang selalu tahu arah kembali. Sedangkan aku, sering tersesat di antara ribuan hal yang harus kuat. Aku ingin pulang, bukan ke rumah, bukan ke seseorang tapi ke diriku sendiri yang dulu pernah sederhana, yang...

Langkah Menuju Damai

0

Oleh: Nazwa Sabina Wartawan LPM Qalamun Nazira adalah seorang gadis yang teduh. ketika harus pindah dari Kota kelahirannya ke Kota tempat ayahnya bekerja. Meski berat meninggalkan teman-teman lamanya, Nazira percaya ia akan mendapatkan teman-teman baru dan diterima di lingkungannya yang baru. Namun, kenyataan yang ia hadapi justru berbeda. Setiap hari di sekolah barunya terasa berat. Tatapan teman-teman yang dingin, bisik-bisik di...

Dari Suhaila

0

Oleh: Putri Athifah Wartawan LPM Qalamun aku tak tahu harus jadi apa   mungkin…   seorang perawat untuk luka-luka yang tak pernah kau ceritakan,   atau   penjaga malam yang duduk diam   di samping gelapmu yang paling sunyi. aku ingin pelan-pelan mengumpulkan kepingan keberanian   yang pernah jatuh dari genggamanmu   saat dunia terasa terlalu bising. kalau lelah itu bentuknya batu,   akan kupikul sedikit saja darimu,   biar langkahmu tak sepincang...

Kritik Kecil di Negara Besar

0

Oleh: Saiful Pengurus Redaksional Sore itu, kampus tampak sudah sepi setelah jam kuliah berakhir. Di sebuah kantin yang selalu jadi tempat berkumpul, tiga mahasiswa (Anjas, Saiful, dan Wahid) duduk berdekatan. Bukan buku atau kertas yang mereka bawa, melainkan satu hal yang kini lebih sering memantik keresahan: layar ponsel. “Eh, lihat ini,” kata Saiful sambil mengarahkan HP-nya ke dua temannya. Di layarnya terpampang...